Tampilkan postingan dengan label Lesehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lesehan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

0 komentar

Gus Dur - In Memoriam

Copas from EMGEFile
 
 
‎"Sebuah kenangan pada Gus Dur sang Sufi" Filsafat sufi adalah membuyarkan keajekan, membiaskan titik fokus, dan memendarkan warna cahaya. Sufi tidak sedang membangun surga untuk dirinya sendiri. Ia sedang berbagi kepada orang lain, tanpa pandang bulu. Tanpa melihat secara petak-petak kebenaran. Jadi, jangan lihat wa...rna sufi hanya sebening cahaya putih saja, karena sesungguhnya ia sedang mengurai berbagai warna yang berbeda secara sama. Sufisme adalah sebuah kritik sosial. Membalikkan yang positif melalui cara negatif, yang sebetulnya tidak biasa. Nalar yang dibalik justru untuk dipikirkan. Ini membuat kita memandang sesuatu secara tidak hitam putih. Ada suatu makna yang bisa tak terhingga dijangkau pengindera manusia. Antara laku dan kata para sufi acapkali melampaui atau menyalahi kebiasaan, nonkonvensional, untuk memperoleh hikmah kearifan. Secara kasatmata kelihatan negatif, tapi banyak orang yang tidak menyadari hati positifnya. Model pemahaman seperti ini ampuh untuk melumpuhkan ketergesaan dan ketertutupan dalam beriman. Sufi bahkan tidak takut salah dalam menjalani kehidupan, karena di matanya selalu memandang ”Tuhan”. Kematian pun bukan sebuah kekalahan, melainkan dunia baru menuju kemenangan. Para sufi membangun sendiri metode penjemputan menuju kematian dengan tidak menghiraukan surga dan neraka. Spiritualitas adalah kekayaannya, dan Tuhan merupakan khazanah yang tersembunyi untuk disingkap. Hidupnya sumringah penuh anekdot dan ketawa. Karena itu, sufi sebetulnya amat peduli dan dekat dengan keseharian kita, keberadaannya tidak sejauh apa yang banyak dianggap selama ini. Bahwa ia berperan sebagai Semar. Keganjilannya dalam kekocakan menyuruk waskita, nubuat, untuk kita renungkan. Kadang, ia rela menjadi lilin yang sedia meleleh untuk menerangi kita. Hanya, kita lupa untuk secuil terima kasih.

Minggu, 13 November 2011

0 komentar

Way Of Life #2


Di ruangan belakang masjid al-Farah di West Broadway Manhattan, Amerika Serikat, Lex Hixon, pimpinan sebuah kelompok Sufi, duduk di kursi malas, tenggelam dalam sinar yang terang benderang. Ia bertutur:

Kontak pertama saya dengan Islam dimulai ketika saya berumur tujuh belas tahun. Waktu itu saya sedang mengunjungi seorang teman di Washington, D.C. Pada sore hari saya biasa berjalan-jalan di deka...t bangunan pada saat itu mungkin merupakan satu-satunya masjid besar di Amerika Serikat, yaitu Islamic Center yang berdiri gagah dengan kubah dan dengan arsitekturnya yang Islami. Waktu itu saya mendapat perasaan bahwa bangunan itu adalah bangunan yang penting.
Suatu kali, saya mengetuk pintu depan bangunan itu. Tak ada seorang pun di sana. Sesuatu mendorong saya untuk masuk. Saya berjalan berkeliling ke bagian belakang bangunan itu. Saya mengangkat salah satu jendela untuk memasuki sebuah kelas. Lalu saya naik ke tingkat atas, di sana ada sebuah rak sepatu dan di rak tersebut ada sepasang sandal yang sudah usang. Saya melepas sepatu saya dan masuk ke dalam masjid. Saya berada di sana sendirian selama setengah jam. Saya duduk di atas permadani yang indah, merasakan suasana religius yang luar biasa. Kemudian saya mengambil sepatu saya dan menentengnya keluar melalui pintu depan.
Kesadaran saya terusik: Mungkin pintu depan itu tidak dikunci dengan benar. Mungkin orang yang bertanggung jawab atas tempat ini akan disalahkan karena sesuatu. Saya kembali dan mengetuk dengan keras. Saya berteriak-teriak. Akhirnya seseorang keluar dari ruang bawah tanah. Saya menunjukkan padanya apa yang telah saya lakukan. Saya menunjukkan kepadanya tempat di mana jendelanya terbuka. Dia tidak marah atau gusar.
Ketika kuliah di Universitas Columbia saya mempelajari agama-agama di dunia. Saya bergabung dengan stasiun radio di New York. Selama empat belas tahun saya melakukan wawancara mingguan dengan para pimpinan dan guru-guru agama dari berbagai kelompok aliran. Dan di stasiun radio itulah saya berjumpa dengan dua syaikh yang hebat. Yang satu adalah Bawa Muhaiyaddeen dari Sri Lanka, yang mempunyai masjid di Philadelphia dan wafat pada 1986. Selama itu saya telah mewawancarainya sebelas kali dan saya menjadi sangat dekat dengannya.
Syaikh yang satu lagi adalah Muzaffer Ozak. Saya juga mewawancaramya di radio. Saya belum pernah bertemu Syaikh Muzaffer sebelum mewawancarainya. Saya hanya melihatnya duduk di sana dengan tenang. Kami mengatur semua mikrofon, dan saya minta agar program itu dimulai dengan suara azan. Lalu syaikh itu duduk di hadapan saya. Acara itu disiarkan dari puncak Empire State Building (azan yang kami udarakan membuat Empire State Building menjadi minaret tertinggi di dunia)-ketika panggilan shalat itu dikumandangkan, saya memandang wajah syaikh tersebut. Terlihat tetesan air mata mengalir di wajahnya. Saya pikir: Sungguh sebuah ketulusan spiritual! Dia mendengar panggilan itu lima kali sehari, tetapi tetap saja air matanya berlinang setiap kali mendengarnya.
Belakangan saya mengetahui bahwa interpretasi saya tidak tepat. Sebenarnya dia mencucurkan air mata karena dia merasa mengenali saya sebagai penerusnya, wakilnya. Setiap syaikh mempunyai beberapa penerus. Ada demokrasi yang nyata dalam kolompok darwis. Tak seorang pun yang merasa lebih utama dari yang lain.
Itu terjadi pada hari Minggu. Kemudian hari Selasa malam, syaikh itu memberikan zikr pertamanya di Katedral St. John. Melalui salah seorang darwisnya dia mengirimi saya setangkai bunga mawar. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam lingkaran peserta acara zikir itu. Saya berdiri di sudut dengan memegang mawar itu, dan dia terus memandang saya dari tengah lingkaran tersebut. Kemudian dia mengundang saya untuk datang pada hari Kamis malam ke tempat tinggalnya di Spring Valley, New York. Di sana dia akan melakukan zikir. Sebelum pergi, dia mencium kening saya. Itu merupakan suatu bentuk transmisi spiritual yang sangat hebat.
Malam itu saya melihat kitab tentang 99 nama Allah. Ada dua nama yang sangat menarik bagi saya melebihi yang lainnya. Pertama adalah al-Aziz, Yang Maha Kuasa. Kedua adalah Al-Nur, Cahaya. Saya mengingat-ingat kedua nama itu dalam pikiran dan hati saya sampai saya tertidur. Kemudian pada hari Kamis, saya pergi ke tempat kediamannya.
Sepanjang perjalanan ke sana, saya selalu mengulang-ulang La ilaha ill Allah keras-keras. Ketika tiba di sana hal pertama yang dikatakan Syaikh Muzaffer kepada saya adalah, "Kami telah mendengar kedatanganmu." Seorang syaikh yang mulia memperlihatkan kekuatannya yang penuh keajaiban. Mereka tidak memamerkannya di segala tempat. Mereka hanya mengisyaratkan hal itu, dan jika Anda menerimanya, itu akan sangat berarti bagi Anda.
Malam itu kami melakukan zikir bersama-sama. Keesokan harinya dia berkata, "Saya ingin menjadikan Anda sebagai darwis saya. Saya ingin memberikan nama Arab untuk Anda." Dia melanjutkan, "Namamu adalah Nur." Dan saya berkata, "Saya mempunyai sebuah nama untukmu: Aziz" --karena kedua nama itulah yang selalu saya pikirkan. Dan semua darwis yang ada di sana terkejut karena Aziz adalah nama rahasia kelompok itu.
Ketika seseorang ingin menjadi syaikh, dia tidak boleh berpikir dalam kerangka kepribadian yang terbatas. Dia harus melihat seluruh kehidupannya, seluruh masa kecilnya, dan pendidikannya semata-mata sebagai sebuah jembatan --jembatan yang sangat sempit-- yang membawanya ke suatu tempat di mana dia akan bertemu dengan gurunya dan memulai latihan spiritual. Pada akhirnya dia larut ke dalam pengukuhan La ilaha ill Allah. Jembatan sempit itu merupakan jembatan menuju Surga persatuan. Di bawah jembatan itu terdapat godaan kehidupan duniawi. Dia tidak boleh terperosok ke dalam godaan itu, baik itu godaan finansial maupun godaan religius. Jembatan itu dapat dilewati hanya jika Anda menginginkan kebenaran. Akhirnya Anda akan mencapai Surga, yang merupakan tingkat kesadaran, tingkat tauhid, tingkat persatuan.

American Jihad, Islam After Malcolm X
Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New Yorkelakang Masjid

Way Of Life


Ali Asani, Profesor di Harvard University, mengajar Bahasa dan Kebudayaan Indo-Muslim. Menuturkan:

Saya mempunyai seorang mahasiswa pasca sarjana yang sedang melakukan riset literatur-literatur pasca-kolonialisme di jurusan sastra Inggris. Suatu ketika dia datang ke kantor saya untuk meminta bantuan menterjemahkan naskah-naskah orientalisme. Sesudahnya saya ditraktir makan malam. Kami bicara banyak hal dan pembicaraan kami benar-benar menarik. Di tengah-tengah obrolan ketika makan malam itu tiba-tiba dia berkata, "Saya harap Anda tak tersinggung dengan pertanyaan saya yang satu ini." "Pertanyaan apa itu?", tanya saya penasaran. "Bagaimana mungkin seorang intelektual seperti Anda, yang tentu amat rasional dan cerdas, memeluk sebuah agama yang menganjurkan jihad, perang suci, dan terorisme?"

Kalau Anda buka kamus bahasa Arab, Anda tak akan menemukan kata-kata "perang" maupun "suci " di bawah definisi jihad. Istilah itu sendiri terbentuk dari konsonan 'j', 'h', dan 'd'. Dan kalau Anda tengok ke akar katanya, jihad berarti "bekerja keras" atau "berjuang." Jadi kalau Anda berusaha keras untuk bangun dari tempat tidur di subuh hari, itu adalah jihad. Kalau Anda berjuang keras menerobos badai salju untuk pergi kerja, itu juga merupakan jihad. Jadi, sesungguhnya istilah jihad mempunyai pengertian gramatikal khusus, dan dalam konteks keagamaan mempunyai pengertian tertentu.

Sayangnya, sering kali umat Islam menggunakannya secara salah. Mereka pakai istilah jihad secara gampang dikaitkan dengan kepentingan politik. Akibatnya sebuah konsep relijius yang sangat indah telah disalahartikan.

Beberapa tahun terakhir ini, konsep jihad telah diasosiasikan dengan agama Islam secara negatif. Orang menyebut Perang Teluk berhubungan dengan Islam. Padahal tak ada kaitan apapun antara Perang Teluk dengan agama Islam. Perang Teluk bukan disebabkan persoalan agama, tetapi persoalan politik. Namun semua orang tetap memandangnya seolah-olah ada kepentingan agama di dalamnya. Mereka serta merta mengira bahwa Islamlah yang menyebabkan semua itu.

Pemahaman semacam itu bukan saja sangat naif, tetapi juga amat mencemarkan. Pemahaman itu menggambarkan seolah-olah Muslim tak sama dengan umat manusia lain, yang juga dimotivasi oleh kepentingan politik, ekonomi, dan masalah-masalah sosial. Banyak orang mengira, satu-satunya yang mendorong tindakan mereka adalah agama.

Kini saatnya untuk bertanya: Apa sih artinya menjadi seorang Muslim? Kalau Anda pakai Islam sebagai ideologi politik, maka menjadi perlu untuk mendefinisikan siapa Muslim itu, bagaimana perilaku Muslim dan juga yang bukan Muslim. Dan kalau analisis dan pemahaman semacam ini Anda teruskan, maka Anda mendekati bahaya menafsirkan Islam secara bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar.

Al-Quran menyebut bahwa tak ada paksaan dalam agama. Bagaimana mungkin sebuah negara atau pemerintahan menggunakan Islam sebagai ideologi politik dengan memaksa rakyatnya shalat lima waktu. Di Saudi Arabia, ada yang disebut "Polisi Agama". Anda harus menutup toko dan dagangan Anda untuk pergi shalat jika waktunya tiba. Itu bukan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Quran, melainkan Islam yang digunakan sebagai alat politik.

Di banyak tempat di dunia Muslim, Anda temukan negara-negara yang mencoba mendefinisikan siapa Muslim dan siapa yang bukan Muslim, dan juga bagaimana perilaku yang Islami. Tetapi, di negeri ini, Amerika, Anda dapat menjadi seorang Muslim dan membicarakannya dengan sesama Muslim, tanpa ada seorang pun yang memaksa Anda untuk bergabung dengan kelompok mana pun. Inilah salah satu kehebatan Muslim di sini.

Dalam beragama, Anda membutuhkan dinamika, dan saya kira inilah yang sedang terjadi di Amerika. Bagi kelompok imigran, Islam masih merupakan tradisi dan istilah yang relatif baru. Dan masyarakat terus menerus melakukan pembenahan, belajar mengorganisasi kemajemukan dalam Islam. Ada usaha untuk lama-lama menyadari bahwa untuk menjadi seorang Muslim, kita dapat melalui banyak jalan, tanpa harus menghakimi satu lama lain.

Jihad saya sendiri meliputi dua hal: pertama, memahami standar ganda bagaimana Islam digambarkan di Barat; dan kedua, perjuangan untuk membuat kaum Muslimin memahami bahwa ada banyak jalan untuk menjadi Muslim. Syahadat itu ibarat sebuah tali yang menyatukan biji-biji tasbih. Semuanya tergabung menjadi satu dengan tali itu. Meskipun warnanya berbeda satu sama lain, biji-biji itu tetap merupakan satu kesatuan.

American Jihad, Islam After Malcolm X
Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York

Minggu, 04 Juli 2010

0 komentar

Kumpulan Kata-kata Bijak Umar bin Khattab ra

Umar bin Khotob: “duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)

Umar bin Khotob: “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126)

Umar bin Khotob: “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)

Umar bin Khattab: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. ~ Khalifah ‘Umar

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.

Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.-Umar bin Khatab-

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya.-Umar bin Khatab-

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.-Umar bin Khattab-

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.-Umar bin Khattab-

Senin, 18 Januari 2010

0 komentar

Kota Ternyaman di Indonesia

Disalin dari :

Daftar Kota Ternyaman Di Indonesia

Dari hasil penelitian yang dilakukan Ikatan Ahli Perencana di 12 kota di Indonesia terhadap kota yang dianggap nyaman, menyebutkan kota Yogyakarta sebagai kota ternyaman di Indonesia.
Penelitian dilakukan terhadap 1200 orang, dengan 100 orang per kota yang dinilai, dengan kriteria kualitas penataan ruang, jumlah ruang terbuka, kualitas angkutan umum, perlindungan bangunan sejarah, kebersihan, pencemaran, kondisi jalan, fasilitas pejalan kaki, kaum diffable, kesehatan, pendidikan, air bersih, jaringan telekomunikasi, pelayanan publik, hubungan antar penduduk, listrik, fasilitas rekreasi.
Hasil dari penelitian itu adalah : (nilai tertinggi 100 yakni sangat nyaman)

1. Kota Yogyakarta  nilai indeks  65,34
2. Manado 59,9;
3. Makassar 56,52;
4. Bandung 56,37;
5. Jayapura 53,13;
6. Surabaya 53,13;
7. Banjarmasin 52,61;
8. Semarang 52,52;
9. Medan 52,28;
10. Palangkaraya 52,04;
11. Jakarta 51,9;
12. Pontianak 43,65
dari hasil survei di 12 kota besar tersebut hanya warga Yogyakarta yang sebagian besar merasa nyaman tinggal di kotanya. Meski begitu, kenyamanan tersebut lebih banyak didukung faktor budaya yang lembut,sopan,dan ramah.
Sedangkan Warga DKI Jakarta, tidak merasa nyaman karena faktor pelayanan angkutan umum,terutama soal kualitas, kurangnya fasilitas untuk wanita hamil dan orang cacat, kebersihan lingkungan, penataan kota yang buruk, kurangnya ruang terbuka hijau (RTH) dan paling tinggi adalah keluhan kesediaan lapangan kerja.
Bagaimana dengan kota anda?
http://santosinta.wordpress.com/2009/12/22/daftar-kota-ternyaman-di-indonesia/